Square Root of 3

I’m sure that I will always be
A lonely number like root three

The three is all that’s good and right,
Why must my three keep out of sight
Beneath the vicious square root sign,
I wish instead I were a nine

For nine could thwart this evil trick,
with just some quick arithmetic

I know I’ll never see the sun, as 1.7321
Such is my reality, a sad irrationality

When hark! What is this I see,
Another square root of a three

As quietly co-waltzing by,
Together now we multiply
To form a number we prefer,
Rejoicing as an integer

We break free from our mortal bonds
With the wave of magic wands

Our square root signs become unglued
Your love for me has been renewed

Posted with WordPress for BlackBerry.

How to Love

Sebagai manusia normal terkadang kita merasakan untuk mencintai orang, bagi orang yang normal itu mudah. Tinggal katakan langsung kalau diterima syukur, kalau nggak ya usaha lagi.
Tapi bagi beberapa orang mencintai orang itu sedikit sulit, apalagi jika orang yang kita cintai memiliki pasangannya. Hadeeh serasa jiwa sudah hilang..
Tapi dari semua itu … The show must go on …

Antara Hidup dan Framework

Belajar Lagi Yukk!!

Kemarin kenalan ama programmer PHP yang udag gape banget, setelah ngomong ngalor dan ngidul(belum ngulon dan ngetan). Dia kasih tahu tentang framework dalam dunia programming yang fana ini. Dia ngomongin sebuah proyek yang dikerjakan dengan menggunakan framework CodeIgniter, tapi setelah browsing di internet ternyata banyak juga framework yang kayaknya lebih bagus dari si Code Igniter ini. Tapi masalah bagus atau tidaknya sebuah tool kan tergantung dari pemakainya. Seperti kata pepatah kuno “A Tool with A Fool still Tool, A Fool with A Tool still Fool”.

Berangkat dari pemahaman tersebut gue sekarang mau cobain framework dari ZEND sono. Karena dari zend otomatis disebut Zend Framework sekarang yang sedang gue pakai adalah zend versi 1.7.6, gue ambil versi fullnya(udah include ama Dojo Toolkit) ukuran lumayan kecil kok.

Ok kita bahas zend sekarang. Zend merupakan framework yang agak-agak rewel dalam masalah settingnya beda dengan CakePHP atawa si CodeIgniter yang notabene easy to set up. Walaupun begitu tanpa halangan yang berarti kita tidak akan bisa berkembang kan! Dalam Zend ini semua class ama tetek bengek yang ribet tersebut ada pada folder librarynya, jadi kita musti set dulu include path di php.ini supaya ke folder tersebut(udah ngertikan caranya!).

Semisal ente-ente belum pada tahu gimana caranya bisa tanya ke mbah kita yang super duper sakti Mr. Google ok! setelah set include path kita musti atur directory dalam aplikasi php kita, untuk itu gue mau baca dulu tutorialnya soalnya agak-agak beda nih dengan Cake atau Code Igniter.

Happy Coding!!

Perlukah sebuah GUI Editor untuk belajar programming???

Kemarin ketemu ama junior-junior di tempat belajar, mereka tanya “Mas bikin GUI di Java enaknya pake apa??” saya mikir sebentar lalu saya jawab “Kalo pake notepad kamu bisa??”. Dulu waktu pertama kali belajar PHP saya tidak pernah punya pikiran seperti itu, saya lebih suka koding sendiri untuk tentuin penampilannya. Sekarang di Java karena pertama kenalan udah dikenalin ama Netbeans ada sebersit pikiran untuk use GUI editor tapi saya malah bingung sendiri jika musti ngurutin kodenya, akhirnya sekarang saya belajar Java-nya cuma pakai SpeedEdit aja.

Jaman sekarang banyak bertebaran Gui Editor untuk programming language di internet, tujuan utama membuat editor itu sendiri adalah supaya lebih mudah dalam pembelajaran, pengembangan software, dll. Tapi dengan GUI Editor tersebut pulalah yang membuat kita menjadi ‘bodoh’ dan ‘malas’.

Kita menjadi bodoh karena kita tidak bisa berkembang dengan menggunakan GUI Editor tersebut, kita menjadi malas karena kita hanya mengandalkan sang editor untuk desain aplikasi-nya. Padahal jika java kita explorasi lebih jauh dengan menggunakan notepad atau text editor lainnya maka pengetahuan kita juga nambah, tapi jika hanya mengandalkan GUI editor mungkin kita tidak bisa mengexplorasi lebih jauh.

Misal aja kalo mau nambahin MySQL Connector/J di Netbeans udah ada wizard-nya sendiri sehingga jika kompilasi gak bingung-bingung buat setting classpath-nya. Coba kalo pake notepad ato text editor lainnya? Ribet sih tapi kita bisa ngerti behind the wizard-nya setting classpath atau lainnya kan?.

Jadi seandainya ditanya perlu gak sih GUI Editor?? Jawabannya ya perlu gak perlu.
Perlu jika kita mau ngembangin software dengan cepat. Tidak perlu kalau kita mau mendalami lebih jauh arti dari sebuah kata “Programming”. Soalnya orang yang pinter programming dengan mengandalkan text editor aja kalo pindah ke GUI Editor itu gak perlu penyesuaian yang lama, tapi coba dibalik.

NB: When Linus Torvalds create Linux he doesn’t use any GUI editor

Normalisasi dalam Database

Apa sih normalisasi itu?? Apa fungsinya?? Gimana caranya?? Eitss satu-satu donk! Sekarang saya akan mencoba untuk menjelaskan tentang ‘Normalisasi dalam Database’. Normalisasi itu teknik untuk mengelompokkan atribut dari suatu relasi sehingga membentuk struktur relasi yang baik(tanpa adanya redudansi). Normalisasi dalam suatu database biasanya hanya mencapai N3(Normalisasi Ketiga), berikut adalah urutan Normalisasi :

1. N1(Normalisasi Pertama)
Mempunyai aturan
~Mendefinisikan primary key
~Tidak ada grup yang berulang
~Semua non-primary key bergantung pada primary key
2. N2(Normalisasi Kedua)
Mempunyai aturan
~Memenuhi aturan N1
~Tidak ada ketergantungan parsial
3. N3(Normalisasi Ketiga)
Mempunyai aturan
~Memenuhi aturan N2
~Tidak ada ketergantungan transitif

Sebagai tambahan normal dalam suatu database seharusnya mencapai bentuk normal tertinggi dan bergerak dari bentuk normal satu dan seterusnya untuk setiap kali membatasi hanya satu jenis redudansi. Jumlah normalisasi seluruhnya ada 5(Lima) dimana 3 bentuk normal pertama menekankan redudansi yang muncul dari Function Dependencies sedangkan N4 dan N5 menekankan redudansi yang muncul dari kasus Multi Valued Dependencies.

Berikut adalah cara singkat melakukan normalisasi
1. Normalisasi Pertama a.k.a N1
Hilangkan duplikasi dengan mencari ketergantungan parsial
2. Normalisasi Kedua a.k.a N2
Field-field yang tergantung pada satu field harus dipisah dengan tepat
3. Normalisasi Ketiga a.k.a N3
Cari hubungan transitif(transitive relation) dimana field non key tergantung pada field non key lainnya

Tabel yang sudah mencapai N3 sudah siap untuk diimplementasikan dalam sebuah proyek, sebenarnya masih ada bentuk normalisasi yang lain yaitu Normalisasi  Boyce-Codd dan N4. Jadi sebelum membuat suatu project normalisasikanlah database-mu.

Happy Learning!!

Siapa si Lo???

Pernah ngalamin tentang di ‘Siapa sih lo??’-in sama orang lain? Atau malah elonya sendiri yang gituin orang lain?. Dulu waktu saya pertama kali belajar HTML syntax ada yang ‘Siapa sih lo??’-in saya. Ceritanya waktu itu saya liat anak-anak baru pulang dari workshop HTML ama PHP lha sayanya kagak ikutan wong ndak ngerti kalo ada workshop. Iseng-iseng saya lihat anak-anak tadi diajarin apa aja di workshop, waktu itu liat anak-anak bisa bikin tulisan berjalan dengan HTML saya udah ngiri banget lalu bilang “Eh ajarin donk biar bisa bikin kayak gitu” lha kok malah dijawab “Siapa sih lo?? lo kan gak ikutan workshop”.
Sejak saat itulah saya mulai tertarik dunia programming yang luas ini, saya pertama kali belajar yaitu HTML, PHP, MySQL, terus ya si Java ini. Guru HTML saya yang pertama yaitu ‘w3c.org’, soalnya udah kadung emosi sama kalimat tadi(‘Siapa sih lo??’). Walaupun begitu sekarang sih saya tetep baik-baik aja ama anaknya. Di balik kalimat ‘Siapa sih lo??’ yang kelihatannya bikin kita emosi ternyata saya menemukan pelajaran yang berharga yaitu:
1. Kalo tidak ada yang mau ngajarin kamu maka belajarlah sendiri
2. Dengan belajar sendiri kita akan tahu bahwa dunia itu luas
3. Tidak semua sumber memberikan seluruh ilmunya kepada kita
4. Guru terbaik adalah pengalaman(sudah pasti)
5. Belajar sendiri mungkin lebih sulit daripada belajar bersama tapi dengan kesulitan itulah yang menjadikan kita semakin handal
6. Mungkin orang yang bilang ‘Siapa sih lo??’ ke kita tahu bahwa kemampuan kita sangat baik untuk dikembangkan
jadi jangan berkecil hati jika di ‘Siapa sih lo??’-in ama orang lain. Hal tersebut seharusnya mampu mendorong kita untuk lebih berkembang, sampai sekarang pun kalo ada anak tiba-tiba tanya “Mas ini gimana? Mas itu gimana” tanpa ada usaha dari dianya ya saya jawab aja “Siapa sih lo??”.

Happy Learning !!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.